Kamis, 21 Juni 2012

cat per

sudah hampir 10 tahun saya berhenti dari kegiatan yang namanya mendaki
gunung ini. terahkir tahun 2000 ketika menjadi guide mengantar beberapa orang siswa
pertukaran pelajar dari australia menjejakan kaki di Puncak Hargo dumilah, Gunung lawu.
Setelah itu bisa dibilang saya menanggalkan semua perlengkapan kegiatan pendakian. Walau
terkadang masih beberapa kali melakukan perjalanan ke alam bebas, tapi bukan lagi mendaki
gunung.
ada saja alasan yang membuat saya enggan untuk menapaki kembali jalan tanah yang
menanjak di gunung. entah karena kondisi tubuh yang jauh lebih “subur” dibanding ketika dulu
masih SMa yang hampir 1 bulan sekali mendaki gunung di seputaran jawa. tidak tahan dingin,
takut capek, sudah tidak kuat lagi, tidak ada waktu dan banyak alasan cengeng lainnya yang
membuat puncak gunung menjadi salah satu mimpi yang sepertinya akan sulit digapai kembali.
tapi entah, ketika membaca thread ajakan ke Gunung Semeru tersebut, semua kambing hitam
yang menjadi penghalang seakan kalah dengan kerinduan untuk kembali merasakan dinginnya
udara pegunungan. kerinduan untuk menemukan kembali perasaan damai ketika berdekatan
dengan alam.
Saya harus kembali ke Semeru, ujar saya dalam hati seakan mencoba mengalahkan berbagai
penyanggahan dalam hati yang mencoba menggoyahkan keinginan tersebut.
Setelah kontak dengan Yudi, koordinator dari khyber Pass, maka kepastian untuk berangkat
ke Semeru sudah di tangan. Saatnya untuk melakukan beberapa latihan fisik supaya tidak
terlalu drop nanti ketika come back. 10 tahun merupakan waktu yang cukup lama dan postur
tubuh saya jauh dari ideal untuk bisa berjalan sembari membawa ransel di pundak. Saya harus
berusaha semaksimal mungkin supaya momentum tersebut tidak sia sia.
alasan lainnya sebenarnya adalah semenjak saya bermain dengan kamera digital, belum pernah
lagi saya kembali mengabadikan keindahannya. Padahal di gunung, seingat saya banyak obyek
menarik untuk diabadikan, terutama untuk para pengemar foto keindahan alam. dulu waktu
masih sering naik gunung, masih menggunakan kamera analog, dengan budget ala kadarnya
yang hanya mampu membeli 1 – 2 rol film kualitas ekonomi. Itupun kadang kalau tiap selesai
pendakian hanya dicetak dalam bentuk thumbnail kecil kecil baru nanti kalau ada yang cukup
bagus dicetak 3R. dan itupun sebagian besar diisi foto pose di atas puncak, atau pas matahari
terbit.. hahaha..
jadi saya pengen banget bisa mengabadikan keindahan alam di Semeru nanti. apalagi melihat
skedule perjalanan 5d4n di Semeru yang “toleran” terhadap ngesoter seperti saya ini :d
“kapan lagi bisa ngesot sambil moto2 nyante di gunung sama banyak orang kan” ujar ku
meyakinkan diri sendiri :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar